About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

Kamis, 02 Januari 2014

Mencari yang hakiki (1)

Saya terlahir muslim, sekitar 19 tahun lalu. Sebelum berkenalan dengan taman kanak-kanak, rasanya orang tua saya mengajak saya lebih dulu untuk mengenal agama saya, Islam, di Masjid tidak jauh dari rumah. Dan secara kontinyu saua belajar mengaji dan agama di masjid tersebut hingga masuk SD. TK dan SD saya pun keduanya institusi islam yang cukup baik di kota saya. Di SD ini saya mendapat  bekal agama yang begitu banyak. Usia 10 tahun, saya pindah kota, ikut ayah bekerja. Kali ini SD saya SD Negeri, pengajaran agama tak sebanyak di SD saya sebelumnya. Maka di luar sekolah saya  ikut bimbingan agama di masjid dekat rumah. Berlanjut ke bimbingan privat hingga saya SMA.

Cukup saya sadari di SD kedua saya, saya mulai berinteraksi dengan beragam kawan, jauh lebih beragam dari kawan saya di kota lama yang rata-rata berlatarbelakang sama. Bahkan disana tidak ada yang non-muslim. Ketika di SD baru, saya banyak bersinggungan dengan hal baru yang berwarna, positif dan negatif. Saya mulai ikut-ikutan. Seingat saya positif dan negatif berjalan beriringan. Meski hingga SMA saya tetap mendapat bimbingan agama, tidak dapat dipungkiri saya masih sering berjabat tangan dengan banyak hal yang dilarang agama. Ya dosa-dosa anak seusia saya ketika itu mungkin. Hari itu saya merasa, Ibadah, dan hal-hal berbau agama lainnya wajib saya lakukan sebagai penggugur kewajiban saja. Tanpa mendalami maknanya.

Di penghujung SMA, saya banyak sekali berdoa, banyak sekali beribadah. Ibadah yang sering saya abaikan di hari biasa, saya lakukan saat itu. Tujuannya satu : Masuk PTN favorit dengan jurusan pilihan saya. Belajar saya ikuti, Sampai malam, begadang-begadang, kala itu teman-teman saya juga begitu. Jadi, kalau saya tidak ikut begitu saya merasa kalah. Waktu itu keyakinan saya lebih ke "kalau kita berdoa dan berusaha pasti dikabulkan". Rupanya setelah pengumuman penerimaan, saya gagal masuk jurusan di universitas yang saya mau. Dan dalam sebulan saya ditolak lima universitas negeri lainnya. Saya lalu lupa pada Tuhan, lupa segalanya. Saya malas beribadah, berdoa enggan, apalagi ibadah-ibadah yang tidak wajib yang jadi kebiasaan ketika menjelang tes. Saya merasa doa saya sia-sia.

 Dan lalu saya meneruskan ke PTS yang boleh dibilang bagus untuk jurusan yang saya masuki. Disini PTS saya adalah institusi agama non muslim. Kawan-kawan saya pun boleh dibilang orang-orang berpikiran liberal. Praktis saya tidak dapat bimbingan agama Islam. Apalagi saya di kota yang jauh dari orangtua. Saya jarang sholat wajib, berkelakuan jauh dari auran agama. Tapi, Nilai saya memuaskan. Saya jadi berpikir, tanpa doa, saya bisa kalau berusaha. Ditambah ajaran-ajaran filsafat yang meneguhkan hati saya, Agama hanyan bentuk perwujudan sesembahan dari manusia, semua manusia pasti menyembah sesuatu, meminta sesuatu pada suatu entitas tertentu yang ada tidaknya pun kita tidak tahu. Di luar nalar, membantah logika. jadi Tuhan dan yang kita sembah itu hanya kecenderungan manusia yang logis. Bukan karena ada Tuhan yang menciptakan. Saya hampir Atheis saat itu.

Tiba-tiba saya sakit, pulang ke rumah orangtua saya, dan cukup lama saya pulih. Saya tertinggal materi kuliah. Dan akhirnya cuti. Berbagai alasan, orangtua saya menyarankan saya tes masuk Universitas lain di kota asal orangtua saya. Kali ini bebas jurusan pilihan saya, karena kalau diingat, jurusan yang saya pilih ketika SMA itu adalah permintaan orangtua saya yang sebenarnya bukan kesukaan saya.

Setelah semua Tes diikuti, akhirnya saya masuk ke PTN keinginan saya dari kecil. Tapi, di jurusan yang berbeda dengan yang saya mau di SMA. Saya merasa jurusan ini memang yang terbaik. Di tempat baru inilah, saya mulai sering berdiskusi dengan kawan saya tentang agama Islam, Kawan saya ini memahami seberapa jatuhnya iman saya di tempat lama saya. Ia menyodorkan beberapa video ceramah yang menyarankan untuk bertaubat. Cukup membuat saya takut, tapi lalu saya lupa dengan ketakutan saya itu. Namun, ajakan teman saya itu membuat saya sedikit lebih banyak beribadah, dan mulai melangkahkan kaki ke masjid. Meskipun tidak rutin karena saya masih cenderung memahami ibadah saya sebagai penggugur dari kewajiban. Kalau saya tidak melakukan saya akan dihukum Tuhan. Baik, di dunia maupun akhirat. Ibadah saya sekadar formalitas, mengikuti prosedur saja. Bersambung

Kamis, 12 Desember 2013

"lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan"

Kalau kita baca judul diatas, tanpa tahu siapa yang menyatakannya, akan tergambar idealisme yang sangat kuat dalam kata tersebut. Kata tersebut adalah kata yang bagi saya begitu normatif. memilih bertahan pada pendapatnya apapun itu resikonya. Sekalipun dalam konteks ini, diasingkan, dihujat, kehilangan banyak hal yang bisa ia dapat seandainya tetap mengikuti kemunafikan. Kemunafikan? yang bagaimana? Tak perlu saya menyatakan dasar secara agama lebih dahulu tentang makna kemunafikan. Tak perlu rasanya sampai saya menjelaskan munafik secara etimologis, tetapi kita bisa memahami bahwa munafik, berkata tak seperti apa yang dirasakan, Muka dua atau lebih, cocok sekali dalam golongan munafik

Diasingkan? perlu keberanian, keyakinan kuat untuk bisa benar-benar siap diasingkan, dengan segala konsekuensinya. kata yang didengungkan tokoh idealisme Indonesia yang hidup di era 60-an ini menjadi kata yang begitu bisa untuk diiyakan banyak orang. Pasti orang yang membaca atau mendengar kutipan tersebut akan merasa setuju. Setuju, tapi melakukannya tidak mudah. Bagaimana rasanya diasingkan oleh masyarakat. Tidak, oleh lingkungan terdekat sekalipun bahkan. apakah siap menanggung resikonya? Resiko yang kita dapat karena keengganan untuk tunduk pada hal lain yang pada dasarnya di luar nurani kita. Lebih ekstrem lagi, tak hanya tak mau tunduk, tetapi juga lantang melawan yang di luar nurani kita. Tak sedikit Tokoh besar yang tettap membuka rahangnya dan menggetarkan pita suara untuk berkata tidak pada fenomena yang terjadi di sekitarnya, yang sebenarnya, tak sesuai dengan isi hatinya. Melawan, dengan objekitifitas yang tumbuh dari dalam hati dan nuraninya. Nabi Muhammad,  Mandela, Hoegeng, Soekarno muda, Hatta muda, Sjahrir muda, Nikolas Copernicus, dan banyak yang lain yang mungkin saya pun belum tahu. Mereka adalah manusia macam ini. Sebuah kalimat yang menarik untuk disisipkan tentang hal ini, "haters gonna hate". Pasti ada pihak yang tidak menyenangi kita, meski itu hanya di gumamkan dalam hatinya saja. tetapi yang terpenting adalah tetapnya kita berpijak pada apa yang dibisikkan nurani kita. Dan asal tahu saja, mendengar hati nurani kita sendiri terkadang lebih sulit daripada mendengar omongan atau suara orang lain.

Bagi yang belum tahu, Pria yang menyebutkan kalimat diatas adalah Soe Hok-Gie. Pemuda tangguh, yang kokoh dan keras bertahan pada apa yang menurutnya benar. Pemuda yang tak pernah lelah berjuang untuk menciptakan negara, bahkan bila mungkin berkesempatan dunia yang terus berjalan dengan nuraninya. Kita tidak tahu isi hatinya, parameter kebenaran baginya. Tetapi, saya yakin kalau Gie adalah sosok yang murni isi hatinya ingin sesuatu yang berpihak pada orang kebanyakan.

Kamis, 31 Januari 2013

Hikmah Jalan Berlubang

Suatu hari saya dalam perjalanan pulang dari sebuah toko buku di daerah Dago, Bandung. Malam itu jalan memang sedikit licin. Maklum, hujan baru saja reda. Dalam perjalanan pulang, karena banyaknya jalur searah yang membuat saya harus berputar-putar  menuju arah tempat kos saya di daerah Ciumbuleuit, Bandung Utara. Dalam perjalanan, saya terkejut ketika motor di depan saya tiba-tiba berbunyi "kreek!" yang cukup kencang. Rupanya, motor tersebut tidak sempat menghindari jalan berlubang di depannya yang cukup dalam. Kurangnya penerangan di sekitar jalan tersebut membuat lubang yang cukup besar itu jadi tak nampak. Meskipun begitu, saya juga tak sempat mengambil ancang-ancang untuk menghindar, dan masuk ke lubang yang sama. Memang tidak sampai saya terjatuh atau hal buruk yang lain. Namun, tiba-tiba muncul pertanyaan di benak saya. Apakah bapak Walikota bandung tidak pernah melewati jalan tersebut? Rasanya, itu bukan jalan kampung yang hanya dilewati motor-motor atau truk berat dan sedikit mobil. Jalan itu ada ditengah kota dan banyak yang melewati. Buktinya, setiap akhir pekan jalan sekitar situ pasti padat bahkan kadang timbul kemacetan.

Saya yakin, Bandung punya walikota dan segenap perangkatnya yang cerdas-cerdas dan berintegritas. Ketika bergabung menjadi perangkat Kota Bandung tentunya banyak tahap yang harus mereka lewati. Begitu pula dengan pimpinan dan wakil dari si pimpinan kota ini. Tapi, apakah tidak ada yang terpikir untuk menambal lubang-lubang dijalan? Saya jadi terpikir, apa bapak pimpinan kita ini, terlalu sibuk rapat di balai kota, sehingga tidak tahu keadaan sekitar? Mungkin terlalu banyak agenda pembangunan membuat bapak walikota tidak sempat menikmati putaran ban mobilnya di jalanan? Apa bapak walikota punya kendaraan yang bisa tidak menapak tanah untuk mencapai destinasinya? Ya entahlah saya juga bingung kenapa jalan berlubang dan gelap di malam hari yang bisa terbilang membahayakan kalau dibiarkan itu tetap dibiarkan menganga.

Apa perlu warga sekitar patungan, memberi dana untuk perbaikan jalan? Eh.... bukan warga sekitar saja harusnya, apa setiap orang yang lewat harus dikenai pungutan untuk perbaikan jalan? Apa mau sekalian jalan tersebut ditambal masyarakat dan pemuda? Apa kita perlu merekomendasikan kontraktor yang baik untuk perbaikan jalan itu? Saya jadi terpikir, Apa sekalian kita bentuk saja LSM peduli lalu lintas, biar semua rakyat yang atur. Enak sekali jadi bapak walikota ya jika warganya sampai mau turun tangan sedalam itu. 

Saya memang menentang kritik-kritik berlebihan terhadap pemerintah yang marak dilakukan di tengah eloknya alunan kata demokrasi dalam kehidupan sehari-hari. Namun, disini saya hanya ingin mencoba mengajak pembaca (kalau ada yang baca) berpikir. Hanya dari sebuah lubang jalan yang sepele, yang mungkin dengan saya mengupasnya demikian saja saya bakal dikata berlebihan atau bahasa anak mudanya lebay. Ya, saya tidak akan menyanggah dan balik melempar untuk komentar-komentar macam itu.

Dalam pikiran saya,  Lubang jalan cukup menentukan, orang seperti apa yang akan kita pilih untuk memimpin kita? Hanya dari sebuah lubang jalan, kita bisa menilai sedalam apa komitmen sang pemimpin hari ini untuk masyarakatnya? Jangan-jangan kalah dalam dari lubang jalan itu? Hanya dari sebuah lubang tadi, kita juga bisa mengenal lebih dekat sosok pemimpin kita. Hanya dari lubang jalan, kita bisa belajar dari pengalaman, karena pengalaman selalu jadi guru terbaik, semoga kita tidak terperosok lubang yang salah lagi dalam memilih pemimpin kita. Semoga bapak, ibu, atau kakak pemimpin kita kelak mampu lebih baik dalam memperbaiki lubang-lubang jalan dan lubang-lubang lain yang kurang indah untuk dipertahankan dari pemimpin sebelumnya. Ya, di tahun yang kata orang sebagai tahun politik ini, semoga akan datang pemimpin baru yang lebih peka terhadap segala "lubang" yang ada. Aamin



Sedikit cerita, Seorang guru SMP saya pernah berucap, "jangan mengaku atau merasa akan jadi pahlawan kalau masih melanggar aturan...." Mungkin di lain kesempatan bisa kita bahas.
Mungkin, sedikit kutipan dari saya, "Jangan merasa jadi pimpinan yang baik, kalau masih belum peka pada lubang yang besar". Selamat malam!

Jumat, 25 Januari 2013

Sekedar Tanya

Kemana sebenarnya manusia harus bertanya dikala kita ga punya opsi pada siapapun untuk bertanya?
Pernah ada seorang teman yang bilang, curhatlah pada tuhanmu.
Memang rasanya sejuk dan nyaman kalo kita bisa bertanya dan bicara (seolah-olah) empat mata dengan tuhan.
Gua pernah mencoba hal itu. Mencoba seperti curhat pada Tuhan. Memang, Ia tidak menanggapi dengan kata-kata, tapi Ia menjawab dengan ketenangan yang bisa kita rasakan.
Tapi, bagaimana kalau apa yang ingin kita curhatkan itu terasa sangat manusia. Sangat duniawi. Sehingga tak terasa menjadi etis bila ditanyakan pada Tuhan yang Maha Agung.
Rasanya sungguh tak pantas menanyakan hal ini pada-Nya.
Lalu, kemana kiranya gumpalan ganjalan hati dan pikiran ini harus berlabuh?
Ketika lu merasa ini terlalu fana untuk diperbincangkan dengan Tuhan, dan terlalu privat, untuk ditanyakan pada siapapun, Kemana seharusnya kita bertanya?

Kamis, 24 Januari 2013

Menopang Indonesia (?)

Setelah terlalu lama vakum, kayanya ga ada salahnya membangunkan blog "mati suri" ini.

Dengan dunia baru saya hari ini, tentunya saya punya pandangan yang banyak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dan entah kenapa kepikir untuk ngomong soal ini, Menopang Indonesia (?)

Kenapa ada tanda tanya-nya? Karena itu sebenarnya memang masih jadi tanda tanya, Apa kita benar-benar harus menopang Indonesia?

Beberapa bulan lalu,saya terlibat perbincangan dengan seorang teman SMA, yang sekarang sekolah di Perguruan Tinggi favorit di Indonesia. Dalam obrolan itu, ia cerita soal kemana para seniornya mau mengabdi. secara jelas disebut nama perusahaan asing yang top dalam bidang energy. Oke, memang terdengar bergengsi dan sangat keren, seandainya bisa kerja di perusahaan itu, tapi dalam pikiran saya, "Mana pengabdian mereka buat negara?"

Seiring waktu berjalan, banyak hal baru yang saya pahami, dan lama-lama muncul pertanyaan yang lumayan bergemuruh dalam pikiran saya, seharus apa jadi pengabdi buat negara? Rasa-rasanya, saya mulai setuju, dengan si senior temen saya itu. Ga ada masalah kalo kita mau melangkah keluar dari jalur pengabdian untuk negara. Kenapa? Mana rasa nasionalisme saya? Apa ini namanya terlalu jauh jatuh dalam jurang pesimisme? Apa saya udah jadi orang yang terlalu materialistis, hingga mencita-citakan kehidupan nyaman di luar negara ini?

Semuanya muncul dan berkecamuk. Semuanya cukup membingungkan dan membelokan banyak jalur yang selama ini saya tata dan cita-citakan. Bayangkan, untuk jadi pegawai negeri sipil susahnya setengah mati, tapi peluang selain jadi pegawai negeri sipil sebenarnya berserakan dimana-mana. Memang iya, memang nyata. Tapi, bukan itu poin utama dari kegoyahan dan kegalauan saya untuk masa depan saya sendiri. Yang jadi poin dasar semua kebimbangan ini adalah, susahnya menghidupi dan merangkai negeri sendiri.

Indonesia punya banyak orang hebat, ilmuwan, negarawan, politisi, cendekiawan, pengusaha, dan berbagai orang hebat lainnya. Tapi ketika orang-orang hebat tadi diberi tongkat kepemimpinan untuk mengelola negara kita, atau, hanya sebagian dari negara kita, entah itu daerah, atau lembaga, atau departemen, rasanya kehebatan orang-orang tadi jadi ga ada apa-apanya. Malah orang yang tadinya hebat itu jadi bahan cacian orang-orang. Habibie misalnya, orang pandai yang namanya di pakai dalam hitungan membuat pesawat, dan diakui banyak orang kejeniusannya, jadi bahan cacian ketika tahun 1998-1999 ia jadi presiden. Dahlan Iskan, Pimpinan perusahaan media besar di Indonesia ini, jadi bahan gunjingan dan dicurigai banyak pihak ketika menjabat sbg Meneg BUMN hari ini. Joko Widodo, atau kita akrab menyapa pak Jokowi, nominator People of The Year 2012, versi majalah Time, bersanding dengan Barrack Obama dan banyak tokoh dunia lain, juga nominator World Mayor 2012, rupanya keistimewaan dan kehebatannya seolah-olah mulai pudar dimata banyak orang ketika Jadi Gubernur DKI.

Indonesia ini terlalu punya banyak mulut. yang sehari-harinya mengkritisi perilaku pemimpin-pemimpin kita. Seolah-olah pemimpin kita ini adalah dewa yang selalu punya obat manjur mengobati borok penyakit yang terlalu bau dan mendalam lukanya di negara kita ini. Padahal "borok penyakit" ini lah yang seharusnya jadi fokus cercaan agar si "kuman pembawa borok" ini segera pergi dan "obat manjur" bapak-bapak hebat kita ini bisa dijalankan dengan efektif.

Banyak orang Indonesia hari ini seolah lupa dengan apa yang diajarkan disekolah tentang nilai dan norma sehingga banyak penduduk kita bermental buruk. saya baru dapat cerita dari seorang teman, tentang ditipunya usaha katering keluarganya oleh orang kepercayaan keluarganya yang berimbas ikut menipunya para pegawai ke keluarga teman saya selaku pemilik katering. Contoh-contoh macam ini yang bikin kita harus berpikir terbuka bahwa, ga gampang mengatur negeri 240 juta lebih penduduk dengan mental macam itu. Mental egois yang cenderung mikirin kantong, perut, dan kepentingan sendiri.

Tiba-tiba terbayang dalam kepala saya susahnya manjadi seorang birokrat di Indonesia yang harus tahan mental dan iman menghadapi trik-trtik dan permainan cantik untuk mencapai kebulusan yang ada dikepala mereka. Betapa itu hal yang mengerikan, ketika kita punya sejuta mimpi untuk indonesia tapi kita justru ditodong kawan-kawan se-Indonesia sendiri. Menahan saja ga terbayang sulitnya apa lagi mengubahnya? Secara realistis tanpa bermaksud pesimistis, rasanya akan begitu susah untuk meluruskan lagi kerumitan di negeri ini tanpa kebesaran hati, dan kelegowoan dari setiap kawan di Indonesia untuk mau diubah secara sadar agar tercipta Indonesia yang kita impikan. Kalau sikut-sikut mereka, jegalan, hingga ludah mereka tetap ada di badan kita, durhakakah kita bila berpikir untuk berhenti menopang mereka? Berhenti bermimpi Menopang Indonesia?

Minggu, 24 April 2011

"....Berarti bung Hatta, Bung Sjahrir pun munafik?"

Beberapa waktu lalu, gua ngadain kumpul mpk. Beberapa anak kelas 10 izin ga ikut karena ada yang mau ke bincarung.

"mau ngurus AFS a, maaf" kata salah satu anak kelas 10 itu.

Tiba-tiba gua jadi inget setahun lalu, waktu gua kelas 10 juga gua sempat mengecap masa-masa ke bincarung, ngambil formulir sampe ngisinya aja yang malesin. Awalnya pun gua ga pengen ikut,

"ga realistis, mana mungkin gua lolos." Pikiran gua emang selalu pesimis, dan gua akan bahas itu dilain kesempatan.

sisa seminggu pengambilan formulir, akhirnya gua tertarik juga. Itu pun iseng. Gua ga bawa duit formulir, akhirnya gua dipinjemin sama Jupe. Habis jumatan gua, Angga, Jupe, dan Ratu pergi ke Bincarung buat ngambil formulir. Kita punya waktu seminggu buat ngisi formulir yang seabreg, sampe ada surat rekomendasi yang cukup nyusahin.

Akhirnya seminggu lewat, Angga gugur sebelum tes. Dia nyerah ngisi formulirnya. Akhirnya gua cuma sama Jupe dan Ratu kesana. Karena ga ada foto gua sampe foto dikelas dan nyetak di PGB yang hasilnya caur banget. Oke romantika tes lewat formulir memang menyenangkan. Seru karena gua ngurus bareng temen-temen.

Tes pertama: Pengetahuan Umum, Essay B.indo, Tes Bahasa Inggris. Alhamdulillah gua lolos. Nomor urut gua 412 dan Jupe 413 masih ada di daftar orang-orang yang bisa nerusin seleksi. Sayang Ratu udah ga lolos disini.

Tes Kedua: Wawancara Bahasa Indonesia, Wawancara Bahasa Inggris. Nah, waktu tes wawancara inilah yang gua rasa sebenernya gua cukup optimis, karena gua rasa bakat ngebacot gua gede. Urutan masuknya memang acak, dan kita ga tau dapat jatah kapan, ya lebih baik dateng pagi kan. satu persatu temen gua masuk, dan keluar dengan muka santai, pas gua tanyain salah satunya, sebut saja Widuri,

"gimana wid? Susah ga?"
"engga to gampang, malahan dia nanyain punya pacar apa engga.."

kurang lebih gitulah percakapan gua dengan Widuri. Sampe akhirnya sekitar jam setengah 12 gua dapet giliran masuk. Gua pun dipersilahkan duduk disalah satu kursi, dimana di situ ada 2 orang interviewer yang keliatan ramah. Wawancara dimulai,
"oke silahkan ceritain tentang kamu" Kata mas Interviewer 1
"baik, Nama saya Hanindito Danusatya, biasa dipanggil Dito..."
"oke, Dito ya.." Kata Mas interviewer 2 sambil nulis-nulis
"yap, saya tinggal di Bogor Baru Blok d4/9b.."
"wah deket ya, jalan kaki? bawa motor?"
"Naek ojeg, hehe.." sambil cengar-cengir gua jawabnya
"oh ojeg, ya terus-terus."
"Saya sekolah di SMA 1 Bogor.."
"Wah anak Smansa ya, pulangnya malem terus nih ya.."

dan seterusnya basa basi itu berlanjut. Awalnya gua cukup tenang dengan wawancara yang kaya ngobrol itu. lama-lama pembicaraan memanas,
"so, mau kemana nih kalo lolos to?" Kata mas Interviewer 1
"Pengennya sih ke Amerika.."
"hmm, Amerika? ga mau nyoba Jepang? ato yang laen gitu?" masih mas Interviewer 1
"ah, Engga mau ke Amerika aja deh."
"kenapa emang mau ke amerika? bukannya amerika identik sama (apa ya gua lupa yang jelas dia nyontohin hal yang jelek jelek)..?"
"oke, gini mas, sebenernya saya sendiri kurang suka sama amerika, kenapa? karena mereka negara adikuasa yang......"
"tunggu-tunggu kamu munafik ya? katanya ga suka sama amerika? tapi mau sekolah disana? Mereka kan nanti bakal ngasih kesempatan kamu sekolah disana, itu pun ada biaya dari pemerintah sana loh!"

deg...... mampus gua salah ngomong. disitu gua panik banget dan nyoba ngelurusin dengan bacotan ala gua yang masih terpikir aja

"oke, saya memandang amerika sebagai 2 sisi yang berlawanan, pemerintah dan rakyatnya. Pemeintah Amerika saya Anggap kurang baik, dan seringkali terkesan ikut campur kepentingan negara lain. Itulah yang mengakibatkan ketidaksukaan saya. Sementara Rakyat Amerika sendiri adalah rakyat yang bebas dan mampu berkembang. Penampilan serampangan pun banyak yang jadi ilmuwan bla bla bla" gua ngebacot semampu gua

"oh gitu yayaya." mas interviewer 1 yang domina membantai gua pun membicarakan topik lain.

satu jam lewat....

akhirnya gua keluar dengan mental yang udah kalangkabut. rasanya stress. Memang gua cuma iseng tapi ya udah sampe tahap itu kalo iseng kebangetan. Baru berapa langkah dari ruang interview, tiba-tiba gua kepikir jawaban yang gua rasa bisa ngebalikin pertanyaan soal kemunafikan gua tadi,

"berarti mas bisa bilang kalo Bung Hatta, Bung Sjahrir, Tan Malaka, dan semua kaum cendikiawan kita munafik ya? mereka kan sekolah di Belanda yang notabene ngejajah kita. apa mungkin Bung Hatta menyukai kebijakan-kebijakan pemerintah negara penjajahnya?"

sayang beribu sayang jawaban baru didapat setelah wawancara beres. Penyesalan pun berkelanjutan. Rasanya pasrah banget. Gua udah siap gugur. Padahal bokap gua sepertinya berharap gua lolos. Setidaknya melangkah lebih maju. Gua menghentikan doa-doa ke-AFS-an gua karena pasrah yang berlebihan. Karena statement gua munafik oleh mas interviewer 1 rasanya gua baru saja menutup mimpi merasakan sekolah di AS selama setahun. Gua jadi alergi omongan soal AFS.

Semua kepasrahan dan penyesalan berakhir, saat pengumuman tes kedua, Alhamdulillah gua masih lolos. Semua kepasrahan gua berubah jadi syukur, dan ya tetep berjuang karena masih ada tes terakhir. Dalam hati gua mikir,

"mungkin mereka butuh 1 orang munafik macem gua hahaha" pemikiran yang bodoh dan ga guna. cuma buat menenangkan diri dari ketidak percayaan, kenapa gua bisa lolos.

datanglah tes ketiga: dinamika kelompok. Alhamdulillah disinipun gua masih diizinin berharap sekolah diluar negeri.

Seleksi akhir rupanya seleksi nasional. Gua gatau apa yang diseleksi. Ya akhirnya memang gua ga lolos. Tapi saat diumumin itu pas lagi regenerasi MPK, dan seinget gua karena Regen yang berat di bulan Puasa akhirnya gua jatuh sakit karena Herpes. hahaha.

dibalik kegagalan gua, gua menemukan hikmah-hikmah lain. Yang gua rasa emang takdir gua untuk meneruskan kehidupan di SMANSA bareng Benteng Batu. Dan ga lolos seleksi tetep bikin gua berharap suatu hari nanti gua bisa seperti bung Hatta, dan Sutan Sjahrir yang mengecap pendidikan di negeri orang, dan bisa membawa perubahan yang berarti buat Negaranya.

sekarang bohong, besok bohong lagi

Dari TK mungkin kita semua diajarin untuk menjauhi yang namanya bohong. Seinget gua, guru TK gua pernah bilang,

"kalo kamu bohong, di neraka nanti lidah kamu dipotong sama kamu sendiri" kurang lebih begitulah. Dan kita pun cukup takut buat berbohong saat itu.

Saat kita tumbuh, susah banget menghindari kebohongan. Di SD deh minimal anak kecil udah mulai bohong kecil-kecilan. Bohong ke temenlah, ke guru, sampai ke orangtua. Gampang banget bohong itu, malahan kadang menguntungkan. Tambah dewasa, wawasan kita semakin meluas. Kita denger yang namanya "white lie". Kebohongan dengan maksud baik. Nabi pun mencontohkan begitu. Orangtua juga kadang begitu. Sayangnya, anak kecil kadang menafsirkan lain tentang "white lie" ini. malah mungkin ada yang berpikiran dengan dilandasi "white lie" bohong itu boleh. oke, kecil-kecilan memang, tapi kalo udah kebiasa? Ya bohong, tetap bohong, dan dosa tetaplah dosa.

Semakin dewasa saat kita semakin melek ama lingkungan sekitar, berita, acara tv, lingkungan sekolah, dan macem-macem lainnya, kita bakal melihat hal kontradiktif yang sangat mencolok dengan apa yang ditanamkan pada kita sejak kecil. Yaitu, larangan berbohong. Banyak banget kebohongan diluar sana. Manipulasi sejarah misalnya. Kita pasti tahu, peristiwa G30S-PKI. Masa paling kelam dalam sejarah Indonesia. Masa yang paling mengerikan, 7 Perwira TNI dihabisi dengan kejamnya. Lalu dibalikkan, dan pembalasan yang ga kalah mengerikan, pembantaian seluruh simpatisan partai palu arit di muka bumi pertiwi. Ribuan jiwa melayang.

Dan sampai hari ini, kita masih belum tahu apa yang sebenarnya benar-benar terjadi malam 30 september itu. Mahkamah Militer Luar biasa (mahmillub) telah diselenggarakan, dan hasilnya? Nol. Sampai sekarang kita masih dengar banyak versi soal kejadian itu kan? Seharusnya ada satu diantara banyak versi itu yang paling benar, entah CIA-kah, PKI-kah, Bung Karno, Bahkan mungkin pak Harto dibalik malam itu. Masih banyak versi lain. Padahal ga sedikit saksi hidup waktu itu, yang bisa dimintai keterangan. Dan ya sampai sekarang terus jadi misteri. Begitu juga dengan Supersemar yang sampai hari ini ga pernah kelihatan wujudnya. Logikanya, gimana bisa surat perintah yang begitu penting, hilang gitu aja? Apalagi levelnya pemerintahan. Dan ya itu tadi, menimbulkan kontroversi, dan menyuguhkan diskusi sendiri bagi rakyat Indonesia. Dan sekali lagi, saksi hidupnya pun sekarang sudah meniggal semua. tapi waktu masih hidup? Apa kita ga bisa mengorek kenyataan? Maka bukanlah hal yang salah kalo ada orang yang menyimpulkan ada kebohongan dibalik semua itu.

Rekayasa yang disimpulkan oleh orang-orang yang tidak percaya, berefek kontinyu. Berlanjut hingga sekarang. Karena kita tahu pernah ada kebohongan yang disembunyikan, sulit untuk percaya lagi dengan apa yang disampaikan sekarang. Pemberitaan media, rasanya hanya pengisi belaka. Di belakangnya ada kebohongan lain yang ditutup rapat. Dan sampai kebohongan itu terbuka, akan semakin banyak orang-orang yang apatis, karena ketidak percayaan yang begitu tinggi pada negara kita ini. Dan tingkat keapatisan yang tinggi ini, ga akan ngangkat Negara kita ke kehidupan yang lebih baik.

So, siapapun lu, jangan coba buat berbohong. karena kebohongan yang kita buat, membuat orang mikir, seandainya lu dengan mudah berbohong untuk satu hal, lu akan dengan mudah berbohong untuk kebohongan-kebbohongan yang lain. Maka, orang akan sulit sekali percaya sama lu.

Well, stay away from lie guys!